Ditengah Pandemic, Penjara El Salvador Masih Tetap Penuh Dan Terkunci

Ditengah Pandemic, Penjara El Salvador Masih Tetap Penuh Dan Terkunci – Tahukah anda bisa Amerika Tengah, khususnya negara bernama El Salvador merupakan salah satu negara dengan pembunih perkapita yang paling terbesar di dunia? Hal itu tidak menjadi hal yang mengherankan mengingat negara ini tumbuh banyak geng geng yang bisa saling melawan satu dengan yang lain untuk memperoleh kekuasan. Tumbuhnya geng geng ini memang didasari pada keadaan negara dan juga perekonomian yang masih kurang baik hingga kini. Dengan adanya hal tersebut, tidak heran bahwa El Salvador di Amerika Tengah merupakan negara dengan banyak tahanan penjara yang menghuni setidaknya 6 penjara besar yang ada di Amerika Tengah.

Adanya pandemic corona yang mulai menyebar sejak desember 2019 lalu menjadi perhatian khusus bagi presiden El Salvador, Bukele yang memerintah sejak Juni tahun lalu. Dilemma untuk membebaskan tahanan atau tetap mengurung mereka di dalam penjara menjadi pertimbangan yang sangat besar. Para tahanan ini tidak punya pekerjaan dan juga tidak memiliki kemampuan yang mumpuni yang bisa menghindarkan mereka dari bergabung bersama dengan geng geng kejatahan yang lama. Dengan mereka Kembali ke geng dan membuat negara menjadi lebih kacau, hal itu dengan jelas membuktikan bahwa para tahanan penjara ini sepertinya akan tetap terkunci dan berdesakan dalam penjara mereka saat ini.

Setidaknya ada ratusan narapidana yang berasal dari anggota situs judi bola yang menunggu keputusan dalam ruangan panas dan pengap di penjara el Salvado. Mereka menganggap bahwa peraturan ketat untuk para tahanan akan menjadikan mereka lebih baik. Penjara yang ada di seluruh bagian Amerika Tengah itu kebanyakan berada di sel salvadaro dan menjadi rumah bagi ratusan tahanan yang berada di negara itu, uniknya, dalam setiap kesempatan, akan ada banyak pelatihan kemampuan yang diajarkan untuk seluruh narapidana agar dapat mempunyai kemampuan dan mencari pekerjaan yang layak. Narapidana di penjara penjara umumnya berasal dari geng geng yang seringkali terlibat aksi kejahatan dan memang menjadi salah satu masalah di Amerika Tengah yang masih terus ada.

Permasalahan Kembali muncul saat adanya pandemic corona yang berasal dari China mulai menyerbu Amerika Tengah dan mengakibatkan banyak berjatuhan di seluruh negara. Dilema untuk memberikan ruang yang layak bagi para narapidana yang terkunci dalam penjara merupakan permasalahan tersendiri yang sedang banyak dihadapi. Dengan tidak tersedianya penjara yang luas dan layak, para narapidana ini hidup berdesakkan dan berkumpul dalam ruang ruang yang menjadikan para narapidana ini tidak bisa berjaga jarak antara satu dengan yang lain. Hal ini memunculkan ketakutan jika pandemic corona akan merebak dan mennyebar di dalam penjara. Hal ini tentu menjadi PR yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah agar virus ini tidak menyebar semakin luas.

Pandemi corona yang memang masih menjadi musuh bagi bagian besar negara di seluruh dunia ini seolah akan menjadi bom waktu bagi penjara penjara seperti El Salvador, sedangkan pemerintah masih menutup mata akan adanya kebijakan melepaskan atau memindahkan Sebagian narapidana ke tempat lain. Ratusan narapidana tersebut memang tidak bisa dilepas dengan begitu saja karena takut akan Kembali ke jalan jalan dan menyebabkan banyak kekacuan sehingga pemerintah akan mencari solusi terbaik dari permasalahan ini. Penjara di El Salvador juga terkesan kumuh dan sering menjadi penyebar virus TBC dengan cepat sejak dulu antara satu narapidana dengan narapidana lain yang menjadi perhatian juga untuk pemerintah Amerika Tengah.

Demi Atasi Migran, AS Ingin Investasi Rp 65 Triliun
Uncategorized

Demi Atasi Migran, AS Ingin Investasi Rp 65 Triliun

Demi Atasi Migran, AS Ingin Investasi Rp 65 Triliun – Krisis migran yang terjadi di Amerika Tengah ini memang tidak bisa lagi dianggap masalah sepele. Telah banyak pihak yang memberikan bantuan dan juga berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut, namun masalah tersebut tidak kunjung berhenti. Para migran berusaha sekeras mungkin untuk bisa mendapatkan keinginannya dari aksi unjuk rasa. Menanggapi hal tersebut membuat pihak pemerintahan Amerika Serikat tidak bisa berdiam diri. Demi menghentikan terjadinya krisis migran ini AS memberikan investasi sebesar 4,5 miliar dollar atau yang setara dengan 65,2 triliun kepada Amerika Tengah dan juga Meksiko.

Pihak otoritas Amerika Serikat telah berjanji untuk mendukung Presiden Meksiko yakni Andres Manuel Lopez Obrador. Pihak AS memberikan janji untuk memberikan dorongan untuk melakukan pembangunan di Amerika Tengah. Negara di bagian Amerika Tengah merupakan salah satu sumber utama para migran yang masuk ke dalam Amerika Serikat tanpa izin. Sebuah perusahaan investasi swasta yang ada di luar negeri yaitu OPIC yang juga didukung oleh pemerintahan untuk memberikan 2,5 miliar dollar AS atau yang setara dengan 36,1 triliun yang diberikan dalam bentuk investasi baru di El Salvador, Honduras, dan juga Guatemala.

Kementrian dari luar negeri AS memberikan pernyataan bahwa investasi tersebut hanya berlaku dengan proyek – proyek komersial yang dianggap layak saja. OPIC berusaha untuk memberikan bantuan sebesar 2 miliar dollar AS yang setara dengan Rp 28,8 triliun kepada Meksiko selatan yang dianggap sebagai wilayah termiskin yang ada di negara tersebut. Pihak Kemenlu AS memberikan sebuah pernyataan bahwa OPIC telah memiliki proyek pipa yang berada di Meksiko, di El Savador, Guatemala, dan juga ada di Honduras sejak beberapa tahun yang lalu.

Mentri luar negeri Meksiko yakni Marcelo Ebras juga mengatakan bahwa pemerintahnya berusaha dan berkomitmen untuk bisa mendorong pertumbuhan regional menjadi lebih kuat lagi. Komitmen tersebut berupaya untuk memberikan gaji yang layak bagi para migran termasuk bagi para pemain judi bola online yang ada di Meksiko untuk dapat hidup lebih baik. Penawaran tersebut tentu sangat kontras dengan sebuah tuntutan yang telah diajukan oleh presiden Amerika Serikat yakni Donald Trump yang ditunjukan kepada Meksiko yang mana membayarkan tembok besar yang ada di perbatasan.

Trump sendiri memberikan ancaman kepada Amerika Tengah jika tidak bisa menghentikan migran yang berusaha untuk masuk ke dalam AS. Ancaman tersebut berupa pemotongan bantuan yang diberikan oleh AS kepada Amerika Tengah. Investasi yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat ini memang menjadi sebuah strategi yang bisa dilakukan untuk mengehentikan gerak jalan yang dilakukan para migran untuk berusaha masuk ke Amerika Serikat. Investasi yang diberikan AS tersebut bukanlah angka yang sedikit sehingga diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan Amerika tengah menjadi lebih mudah.

Bentrok Terjadi Antara Warga Kota Meksiko dengan Polisi
Arsip Berita Blog Informasi

Bentrok Terjadi Antara Warga Kota Meksiko dengan Polisi

Bentrok Terjadi Antara Warga Kota Meksiko dengan Polisi – Para imigran dari Amerika Tengah yang berusaha menuju Amerika Serikat datang dengan jumlah yang tidak sedikit. Pasalnya ribuan para imigran ini berusaha menuju Amerika Serikat untuk melakukan sebuah unjuk rasa untuk menuntut beberapa hal. Ribuan orang yang ingin berujuk rasa tersebut terjebak di kota yang ada di perbatasan utara Meksiko. Sebelum terjebak para unjuk rasa tersebut mendapatkan sambuntan yang cukup hangat disepanjang jalan. Bahkan para karavan imigran tersebut mendapatkan sumbangan berupa makanan dan juga doa dari para penduduk setempat. Namun sambutan tersebut berbeda ketika para demonstran sampai di Tijuana.

Para imigran tersebut tejebak setelah mereka telah melakukan perjalanan yang cukup panjang dengan waktu yang sangat lama. Para imigran tersebut telah melakukan perjalanan selama kurang lebih satu bulan dan pada waktu tersebut para imigran juga tidur di lapangan baseball di sebuah kompleks yang ada di kompleks olahraga di wilayah tersebut. Di kompleks tersebut terdapat sebuah pagar dari kawat yang mana digunakan untuk memisahkan Meksiko dengan Amerika Serikat. Para pengunjuk rasa juga melemparkan kaleng kepada para petugas polisi yang berusaha untuk menghalagi para pengunjuk rasa untuk masuk ke dalam penampungan imigran.

Para penyelenggara menyatakan bahwa aksi unjuk rasa tersebut bukan merupakan bentuk dari anti imigran melainkan merupakan anti invansi. Jumlah demontran sangat banyak sekali bisa mencapai 1.000 orang. Para pengunjuk rasa tersebut berkumpul dengan menggunakan seragam tim sepak bola dari Meksiko. Selain itu juga mengibarkan bendara Meksiko dengan menyanyikan lagu kebangsaan. Penyelenggara ujuk rasa tersebut juga sangat melarang keras para demonstran yang merokok ganja dan juga membuang sampah sembarangan. Hal tersebut dikarenakan sangat tidak menghargai keramahan kota.

Para pengunjuk rasa ini mengeluhkan soal makanan, sedangkan ujuk rasa berujung terjadinya bentrok dengan pihak kepolisian. Sejumlah para imigran tersebut berusaha untuk menuju kota dengan menggunakan bus. Para demonstran tersebut berusaha untuk meninggalkan kekerasan geng dan juga kemiskinan yang ada di tempat tersebut. Para demonstran tersebut berusaha untuk bisa mencapai Guatemala dan kemudian akan menuju ke Amerika Serikat. Tentu saja para pengunjuk rasa tersebut paham betul bahwa aksinya tersebut bukanlah hal yang mudah karena harus menggunakan visa AS. Tanpa adanya visa tersebut maka akan sangat tidak mungkin untuk bisa masuk ke dalam AS. Bentrok yang terjadi antara warga Meksiko dengan pihak kepolisian tersebut nampaknya menjadi cukup panas mengingat kedua pihak sama – sama menjalankan hal yang sama. Tentu saja keinginan demonstran yang ingin berjalan masuk ke dalam AS dan pihak kepolisian yang ingin menjaga jalan agar para pengunjuk rasa tidak bisa masuk ke dalam AS dengan mudah.

Para Imigran Menginginkan Presiden Honduras Orlando Mundur dari Jabatannya
Arsip Berita Blog Informasi

Para Imigran Menginginkan Presiden Honduras Orlando Mundur dari Jabatannya

Para Imigran Menginginkan Presiden Honduras Orlando Mundur dari Jabatannya – Kabar masuknya para imigran Amerika Tengah ke Amerika Serikat ini menjadi salah satu kabar yang cukup serius. Para imigran yang berhasil masuk ke dalam AS ini terdiri dari 2 kelompok yang mana ke dua kelompok tersebut mengeluarkan suaranya masing – masing. Kedua kelompok tersebut mempunyai sebuah keinginan yang harus dikabulkan oleh AS sehingga bisa membuat para unjuk rasa kembali ke tempat asalnya. Sejumlah tuntunan yang ditunjukan kepada AS tersebut memang cukup mengejutkan.

Sebelum hanya tinggal beberapa para pendemo yang berhasil masuk ke dalam AS, sebelumnya orang yang menuju ke Konsulat AS yang ada di Tijuana Meksiko berjumlah 6.000 imigran. Namun dalam perjalanannya ada beberapa diantaranya yang memilih untuk kembali ke asalnya, ada yang mendapatkan deportasi, dan ada juga yang memilih untuk mengajukan visa kemanusiaan yang ada di Meksiko. Sehingga yang berhasil masuk ke dalam AS hanya beberapa diantaranya saja.

Dua kelompok yang berhasil masuk ke AS melakukan unjuk rasa yang mana menginginkan presiden Honduras Orlando untuk mundur dar kursi jabatannya. Hal ini diinginkan oleh para demonstran yang cukup geram dengan kasus tersebut yang bahkan tidak ada solusi yang tepat. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu dari kelompok unjuk rasa yang datang. Keinginan para unjuk rasa ini bukanlah keinginan main – main atau hanya sebagai gertakan saja. Pasalnya para unjuk rasa memberikan waktu 72 jam kepada para konsulat AS untuk menanggapi keinginan dari para unjuk rasa. Hal tersebut tentu menjadikan kasus ini semakin panas dan tidak kunjung terselesaikan.

Tidak hanya menginginkan presiden untuk turun dari jabatannya pasalnya salah satu kelompok unjuk rasa lainnya juga menginginkan untuk mendapatkan uang. Ya, salah satu kelompok unjuk rasa meminta sejumlah uang yang cukup besar untuk modal kembali ke Amerika Tengah. Kabarnya uang yang diminta oleh para unjuk rasa tersebut sebanyak 50.000 dollar AS yang mana jumlah tersebut setara dengan Rp 724,9 juta rupiah. Bagi sebagian orang tentu jumlah tersebut sangat besar, karena sebanyak 50.000 dollar AS harus diberikan masing – masing orang yang unjuk rasa. Sedangkan untuk kelompok tersebut terdapat sekitar 100 orang yang unjuk rasa.

Walaupun angka tersebut dianggap besar namun kabarnya sejumlah uang tersebut bukanlah jumlah yang besar jika dibandingkan dengan uang yang telah diambil oleh AS dari Honduras. Uang tersebut kabarnya diminta oleh para imigran untuk nantinya akan digunakan kembali ke Amerika Tengah dan sebagian akan dijadikan modal untuk bermain judi bola online. Itulah tuntutan dari para unjuk rasa kepada AS untuk segera diperhatikan jika ingin para imigran kembali ke Amerika Tengah.

Imigran Amerika Tengah Tidak Akan Masuk AS Asal Diberi Ini
Uncategorized

Imigran Amerika Tengah Tidak Akan Masuk AS Asal Diberi Ini

Imigran Amerika Tengah Tidak Akan Masuk AS Asal Diberi Ini – Kabar masuknya imigran dari Amerika Tengah ke AS memang sedang menjadi pembahasan yang sangat menarik. Banyak media yang menyoroti kabar tersebut karena terlalu rumit. Kelompok para imigran asal Amerika Tengah ini terdiri dari dua kelompok. Kelompok para imigran ini melakukan sebuah unjuk rasa yang ditunjukan di Konsulat Amerika Serikat yang berada di Tijuana Meksiko. Unjuk rasa yang dilakukan oleh imigran ini untuk menyerukan beberapa tuntutan.

Para imigran ini mengatakan keinginannya untuk tidak akan masuk ke AS kembali asalkan diberi sejumlah uang yakni masing – masing dari mereka diberikan 50.000 dollar AS untuk pulang. Keinginan tersebut disampaikan oleh salah satu kelompok yang langsung di tunjukan ke pada presiden Donald Trump. Keinginan meminta sejumlah uang tersebut tentu sangat mengejutkan dan menjadi berita yang sangat menarik. Kelompok yang menginginkan sejumlah uang tersebut kabarnya berjumlah sekitar 100 orang yang mana tiba di konsulat pada pukul 11.00.

Kabar memintanya uang dengan nilai yang cukup besar itu kabarnya bukanlah nilai yang besar. Jika diperhatikan dari kasus unjuk rasa tersebut menyatakan bahwa uang yang diminta kelompok tersebut nilainya sangat kecil jika dibandingkan dengan uang yang telah dicuri Amerika Serikat dari Honduras. Hal tersebutlah yang memicu kelompok tersebut untuk meminta sejumlah uang agar bisa kembali ke Amerika Tengah. Uang yang diminta tersebut nantinya akan dibawa pulang yang digunakan para migran untuk membuka sebuah bisnis. Kelompok tersebut memberikan sebuah surat yang cukup mengkritik intervensi AS.

Para unjuk rasa tersebut tidak hanya meminta sejumlah uang saja untuk bisa kembali ke Amerika Tengah. Namun para kelompok unjuk rasa tersebut juga menginginkan presiden AS untuk membuat presiden Honduras Orlando Hernandez bisa meninggalkan kursi jabatannya. Para unjuk rasa tersebut bahkan memberikan waktu yang terbatas untuk konsulat AS selama 72 jam untuk menanggapi keinginan yang telah disampaikan oleh para demonstran. Jumlah imigran yang sebelumnya menuju Tijuana sebanyak 6.000 orang. Namun di saat perjalanan tersebut sebanyak 700 orang dikabarkan memilih untuk kembali ke rumah. Sedangkan 300 diantara dideportasi dari Amerika Tengah. Sedangkan untuk 2.500 imigran lainnya sudah mengajukan visa kemanusiaan yang ada di Meksiko.

Jika dilihat dari aksi tersebut dapat disimpulkan bahwa kasus ini memang cukup serius. Banyak yang memilih untuk meninggalkan tempat tinggalnya karena tidak ada solusi yang jelas. Sehingga para kelompok unjuk rasa tersebut ingin mendapatkan hak yang bisa membuat mereka bisa hidup tenang di Amerika Tengah. Para unjuk rasa ini ingin mendapatkan apa yang mereka inginkan sehingga bisa kembali ke Amerika Tengah. Kabar ini cukup menjadi kabar yang mengejutkan dari Amerika Tengah.