Ditengah Pandemic, Penjara El Salvador Masih Tetap Penuh Dan Terkunci

Ditengah Pandemic, Penjara El Salvador Masih Tetap Penuh Dan Terkunci – Tahukah anda bisa Amerika Tengah, khususnya negara bernama El Salvador merupakan salah satu negara dengan pembunih perkapita yang paling terbesar di dunia? Hal itu tidak menjadi hal yang mengherankan mengingat negara ini tumbuh banyak geng geng yang bisa saling melawan satu dengan yang lain untuk memperoleh kekuasan. Tumbuhnya geng geng ini memang didasari pada keadaan negara dan juga perekonomian yang masih kurang baik hingga kini. Dengan adanya hal tersebut, tidak heran bahwa El Salvador di Amerika Tengah merupakan negara dengan banyak tahanan penjara yang menghuni setidaknya 6 penjara besar yang ada di Amerika Tengah.

Adanya pandemic corona yang mulai menyebar sejak desember 2019 lalu menjadi perhatian khusus bagi presiden El Salvador, Bukele yang memerintah sejak Juni tahun lalu. Dilemma untuk membebaskan tahanan atau tetap mengurung mereka di dalam penjara menjadi pertimbangan yang sangat besar. Para tahanan ini tidak punya pekerjaan dan juga tidak memiliki kemampuan yang mumpuni yang bisa menghindarkan mereka dari bergabung bersama dengan geng geng kejatahan yang lama. Dengan mereka Kembali ke geng dan membuat negara menjadi lebih kacau, hal itu dengan jelas membuktikan bahwa para tahanan penjara ini sepertinya akan tetap terkunci dan berdesakan dalam penjara mereka saat ini.

Setidaknya ada ratusan narapidana yang berasal dari anggota situs judi bola yang menunggu keputusan dalam ruangan panas dan pengap di penjara el Salvado. Mereka menganggap bahwa peraturan ketat untuk para tahanan akan menjadikan mereka lebih baik. Penjara yang ada di seluruh bagian Amerika Tengah itu kebanyakan berada di sel salvadaro dan menjadi rumah bagi ratusan tahanan yang berada di negara itu, uniknya, dalam setiap kesempatan, akan ada banyak pelatihan kemampuan yang diajarkan untuk seluruh narapidana agar dapat mempunyai kemampuan dan mencari pekerjaan yang layak. Narapidana di penjara penjara umumnya berasal dari geng geng yang seringkali terlibat aksi kejahatan dan memang menjadi salah satu masalah di Amerika Tengah yang masih terus ada.

Permasalahan Kembali muncul saat adanya pandemic corona yang berasal dari China mulai menyerbu Amerika Tengah dan mengakibatkan banyak berjatuhan di seluruh negara. Dilema untuk memberikan ruang yang layak bagi para narapidana yang terkunci dalam penjara merupakan permasalahan tersendiri yang sedang banyak dihadapi. Dengan tidak tersedianya penjara yang luas dan layak, para narapidana ini hidup berdesakkan dan berkumpul dalam ruang ruang yang menjadikan para narapidana ini tidak bisa berjaga jarak antara satu dengan yang lain. Hal ini memunculkan ketakutan jika pandemic corona akan merebak dan mennyebar di dalam penjara. Hal ini tentu menjadi PR yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah agar virus ini tidak menyebar semakin luas.

Pandemi corona yang memang masih menjadi musuh bagi bagian besar negara di seluruh dunia ini seolah akan menjadi bom waktu bagi penjara penjara seperti El Salvador, sedangkan pemerintah masih menutup mata akan adanya kebijakan melepaskan atau memindahkan Sebagian narapidana ke tempat lain. Ratusan narapidana tersebut memang tidak bisa dilepas dengan begitu saja karena takut akan Kembali ke jalan jalan dan menyebabkan banyak kekacuan sehingga pemerintah akan mencari solusi terbaik dari permasalahan ini. Penjara di El Salvador juga terkesan kumuh dan sering menjadi penyebar virus TBC dengan cepat sejak dulu antara satu narapidana dengan narapidana lain yang menjadi perhatian juga untuk pemerintah Amerika Tengah.

Dilema Penjara El Salvador Saat Pandemic Corona
Berita Blog Informasi

Dilema Penjara El Salvador Saat Pandemic Corona

Dilema Penjara El Salvador Saat Pandemic Corona – Efek pandemic corona ternyata juga dialami oleh Amerika Tengah. Beberapa negara yang termasuk dalam Amerika Tengah berusaha kuat menangani semua permasalahan yang datang akibat pandemic corona. Salah satu negara yang berada di di Amerika Tengah dan merasakan dampak terbesarnya adalah El Salvador. Negara ini merupakan salah satu negara yang sedang bersiap terhadap apapun yang terjadi selama dalama masa pendemi corona. Bagi anda yang tau, El Salvador merupakan salah satu tuan rumah bagi adanya beberapa penjara yang berada di Amerika Tengah. Penjara merupakan tempat dimana berbagai macam orang dapat berkumpul dan hidup lama dalam jangka waktu yang cukup lama.

Dengan adanya pandemic corona ini, mau tidak mau pemerintah bagian El Salvador juga tau betul bahwa ini adalah suatu bom waktu yang lama lam akan meledak begitu saja. Bagaimana tidak, dengan ribuan orang yang berada dalam penjara, tak menutup kemungkinan jika penyebaran virus corona ini akan bertambah luas. Dilemma antara melepas penghuni penjara dengan adanya pendemi ini begitu nyata. Melihat ruang ruang dalam penjara, mau tidak mau pemerintah Amerika Tengah mungkin cepat atau lambat akan melepaskan tahanan dan membiarkan mereka menjadi penghuni rumah. Hal itu tentu belum dapat dilakukan, mengingat tahanan yang banyak berada di penjara penjara El Salvador merupakan tahanan dari geng geng yang banyak terdapat di negara tersebut,

Bukan lagi suatu berita yang besar, bahwa El Salvador sendiri merupakan negara dengan pembunuhan perkapita yang memang paling besar di dunia. Dengan adanya banyak geng geng kejahatan yang terbentuk dan menjadi tahanan, hingga saat ini El Salvador belum juga memberikan keputusan apakah tahanan akan dilepas selama dalam pandemic ini. Persaingan geng akan semakin memanas dan bisa membuat keadaan negara bisa tambah runyan. Saat ini tahanan di penjara penjara El Salvador bahwa bisa dibilang tidak mempunyai jarang sedikitpun karena penjara sangat penuh dan tidak ada kelonggaran dalam ruang tahanan. Dengan semua penyebab ditahanannya geng geng tersebut, pemerintah masih belum memutuskan mengenai penangguhan penahanan.

Disisi lain, ahli dari anggota agen judi online yang berasal dari berbagai negara berpendapat bahwa pandemic corona ini sangat serius adanya. Pembatasan sosial harus terus dilakukan agar negara dapat terbebas dari corona, namun melepaskan tahanan sendiri merupakan risiko karena mereka tidak punya banyak keahlian dan juga pekerjaan yang memungkinkan. Di dalam penjara, biasanya akan ada banyak kemampuan yang diajarkan dan berharap bahwa sekeluarnya tahanan dari penjara, mereka akan dapat mencari pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka. Mengingat angka pembunuhan semakin kecil, dari oktober 2019 hingga maret 2020, besar kemungkinan bahwa negara ini dapat menurunkan angka pembunuhan perkapita yang dikenal selalu tinggi di Amerika Tengah, khususnya di El Salvador.

Dilema Penjara El Salvador Saat Pandemic Corona

Sejak dulu, penjara di El Salvador menjadi salah satu penjara yang menyebarkan virus TBC dari satu tahanan ke tahanan lain karena memang ruangan yang pengap, panas, dan berdesak desakkan. Penjara bisa menjadi sarang virus apapun jika tidak dikelola dengan baik. Bom waktu juga akan terjadi jika pemerintah tidak segera mengambil Tindakan mengenai apakah tahanan akan dipindahkan, dilepas atau tetap terkurung bersama dalam satu ruangan penat dan panas. Persaingan antar geng juga masih menjadi PR bagi pemerintah agar dapat mengurangi berbagai risiko yang mungkin ditimbulkan oleh adanya geng geng tersebut ketika dalam situasi pandemic corona.

Berita Headline Dari Diario de Centro Amerika, Guatemala
Berita Blog Informasi

Berita Headline Dari Diario de Centro Amerika, Guatemala

Dilario de Centro America adalah media untuk penyebaran informasi secara tertulis untuk kepentingan umum dan publikasi hukum dan peraturan hukum lainnya. Di mana mereka menjaga jalur komunikasi terbuka antara lembaga pemerintah, perusahaan swasta dan populasi umum, memberikan kontribusi bagi pembangunan Guatemala melalui akses ke informasi yang mengkonsolidasikan transparansi dalam manajemen pemerintah. Mereka telah hadir sejak 1880, dan secara online telah memiliki ratusan ribu subscriber yang menerima manfaat semua pemberitaan di dalam atau di luar negeri terkait kepentingan Guatemala. Ada tiga kabar utama:

Pertama, kabar pemerintah menetapkan pedoman untuk pengiriman “Obligasi Keluarga Pemerintah Guatemala” yang diterbitkan hari ini, di bagian hukum Diario de Centro América, Perjanjian Pemerintah 57-2020, dari Kementerian Pembangunan Sosial (Mides), yang menetapkan peraturan obligasi keluarga, untuk mensubsidi keluarga yang terkena dampak secara ekonomi karena krisis yang disebabkan oleh pandemi coronavirus di negara Amerika Tengah ini.

Peraturan tersebut memfasilitasi penerapan norma pembentukan Dana Bonus Keluarga, yang terkandung dalam Undang-undang Penyelamatan Ekonomi untuk Keluarga untuk Efek yang Disebabkan oleh Covid-19, yang menurut dekrit tertanggal 13-2020 dari Kongres Republik, akan memiliki hingga Q6 miliar untuk memberikan bantuan keuangan hingga Q1 ribu kepada mereka yang terkena dampak. Selain itu, ia mendefinisikan penerapan yang tepat dari ketentuan Undang-Undang, dan menentukan bahwa Mides, melalui Unit Pelaksana Dana Perlindungan Sosial, akan mentransfer informasi penerima manfaat ke Superintendency Banks of Guatemala.

Dokumen tersebut menjamin bahwa mereka yang akan menerima voucher adalah orang atau keluarga yang miskin, ibu tunggal atau rumah orang tua tunggal, orang tua, orang cacat, orang dengan penyakit kronis dan degeneratif, dan keluarga dengan anak-anak dalam keadaan kekurangan gizi. Peraturan tersebut akan mulai berlaku pada 18 April 2020. Peraturan ini disahkan oleh Presiden Alejandro Giammattei, bersama dengan Menteri Pembangunan Sosial Raúl Romero, dan Sekretaris Jenderal Kepresidenan,
Leyla Lemus.

Berita yang jadi perhatian di Guatemala lain adalah Commune merawat wanita korban kekerasan dalam rumah tangga. Karena kurungan yang disebabkan oleh pandemi Coronavirus, telah terjadi peningkatan dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga, demi alasan ini Direktorat Kota untuk Urusan Perempuan Villa Nueva menawarkan berbagai layanan kepada perempuan dan anak di bawah umur yang menjadi korban, dengan hati-hati selama 24 jam dengan berbagai cara.

Inisiatif ini lahir untuk memperkuat kerja Pemerintah Pusat dan rekomendasi yang diberikan oleh Presiden Alejandro Giammattei ketika mengumumkan adanya peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga karena pandemi. Walikota Villa Nueva, Javier Gramajo, mengindikasikan bahwa dengan perhatian ini kami berusaha untuk melakukan kerja sama dengan Pemerintah Pusat, untuk menyediakan perawatan komprehensif yang memadai, memperkuat kerja antar-kelembagaan.

Berita selanjutnya, 169 ribu porsi sereal disumbangkan untuk keluarga yang rentan pangan Sebanyak 169 ribu porsi sereal, bar nutrisi dan makanan lainnya disumbangkan oleh perusahaan Kelloggs Amerika Tengah, yang akan didistribusikan oleh Sekretaris Pekerjaan Sosial Istri Presiden (SOSEP) kepada keluarga yang terkena dampak krisis kesehatan Covid. -19. Kepala cabang Eksekutif ini, Thelma Portillo menerima sumbangan dan melaporkan bahwa makanan akan segera didistribusikan melalui program-program yang memiliki cakupan nasional. Jumlah sumbangan ke Q112 ribu 861 diindikasikan. Pengiriman dilakukan oleh Daniel Nazario dan Jennifer Morales, dari Kelloggs Amerika Tengah dan dikoordinasi oleh Hugo Mellado, yang bertanggung jawab atas sumbangan yang dikumpulkan oleh SOSEP.

La Estrella dan Pergulatan Situs Berita Online Di Panama
Berita Informasi

La Estrella dan Pergulatan Situs Berita Online Di Panama

La Estrella de Panamá adalah merupakan tertua di Panama, dibuat pada tahun 1849 sebagai surat kabar Inggris dengan judul The Panama Star, itu adalah surat kabar dengan sirkulasi terbesar di Amerika Tengah. Dan kini menjadi media online dengan pengaruh besar juga di negara tertengah ini, di Amerika Tengah ini. Hari ini ia dalam pertumbuhan penuh, menjadi salah satu dari sedikit surat kabar di dunia dengan peningkatan sirkulasi dua digit, yang dipertahankan dalam beberapa tahun terakhir. Hari Jurnalis di Panama dirayakan pada 13 November untuk menghormati penulis terkenal Gaspar Octavio Hernández, yang pada 1918 meninggal ketika bekerja memimpin editorial untuk La Estrella de Panamá.

Gaspar dilahirkan di Panama City, pada 14 Juli 1893, dengan asal usul daru keluarga yang sederhana, ia adalah penyair termuda pertama Republik Panama dan juga yang paling teikat pada pengaruh modernis. Dengan cara belajar sendiri, ia menunjukkan penguasaan atas instrumen seninya. Dia mengikuti kaidah kebahasaan untuk tunjukkan bakatnya. Hernández selalu ajukan keinginannya untuk kesempurnaan dunia peulisan. Pria imajinatif ini selalu menjamin mutu jurnalis.

Dan meninggalkan dua bukukarya : Iconographies (1915), prosa yang mencakup cerita dan catatan kritis, dan Melodies of the past (1915); atau The Amethyst Cup (1923), sumbangsihnya pada dunia jurnalistik modern di Amerika Tengah sangat besar. Dia meninggal pada 13 November 1918, karena serangan hemoptisis. Para tokoh menggolongkannya sebagai “penyair kulit hitam yang hebat, menyakitkan, eksotis, tulus, dan tragis” yang meninggal pada usia 25 tahun yang ironisnya meninggal saat sedang bertugas di kantor La Estrella de Panamá, surat kabar di mana ia tengah memimpin redaksi.

Kini dunia pemberitaan di Panama tengah keluar jalur sang Gaspar sang penyair, karena adanya “Krisis di media sosial di mana bertebaran pengkabaran kualitas buruk, jurnalisme subyektif dan kabar-kabar burung di media sosial yang lebih dipercaya dari kabar yang digali para jurnalis, yang akhirnya menghancurkan profesi para jurnalis serta kerja urnalistiknya. Kejadian ini nyatanya sangat umum di belahan dunia manapun, di mana rumor dan mengalami komentar tokoh melalui akun sosial medianya bisa didapatkan tanpa bantuan para jurnalis yang mewawancari mereka. Rumor ekonomi, politik, sara dan kasus perjudian casino online terpercaya dengan berita palsu sering terjadi di media panama merupakan manipulasi dari berbagai pihak yang ingin mengambil keuntungan.

Karena terbukanya nara sumber ini, jurnalisme baik online dan offline di Panama, termasuk dari yang ditawarkan La Estrella mengalami situasi death of expertice, kematian keahlian, namun lebih tepat dalam kasus ini adalah kematian para penanya yang ahli, yang mengarahkan nara sumber pada pertanyaan yang tepat. Akhirnya para jurnalis dihadapkan pada keharusan untuk menganalisis subjek baru ini dengan tujuan mencari alternatif yang membantu jurnalis menemukan peluang untuk mempraktikkan profesi di bidang media sosial.

Pekerjaan jurnalis di media online memang kerap mengabaikan atau tidak diajarkan untuk mengatasi situasi labirin dalam media sosial. Yang terburuk adalah beberapa media malah menyewa dan memberi para opinion leader atau buzzer di media sosial suatu tugas jurnalistik. Sebagai penulis berita dan analisis. Maka situasinya akan sangat memilukan karena para buzzer sering mendapatkan pengaruh dan nama besar karena mereka tidak mengerti apa yang mereka katakan namun orang lain menyukainya karena penyampaiannya yang vulgar dan bombastis, yang tidak mungkin dilakukan jurnalis beradab. Media online vs para buzzer media sosial inilah jadi masalah besar dan terpelik dalam kehidupan jurnalisme di Panama.

Negara Amerika Tengah Dapat Bantuan Trump Tapi Ada Syaratnya
Berita Informasi

Negara Amerika Tengah Dapat Bantuan Trump Tapi Ada Syaratnya

Sebagaimana dikabarkan situs berita Amerika Tengah, La Republica Ekuadaro, Trump siap bantu pasokan ventilator dan bantuan coronavirus lainnya ke negara-negara Amerika Tengah, pejabat administrasi Trump mengatakan mereka tidak bermain favorit, semua akan menerima termasuk mantan jajahan mereka Panama. Walau begitu, negara-negara yang kooperatif dalam masalah imigrasi dan isu-isu lain dapat giliran pertama atau didahulukan.

Presiden El Salvador dan Honduras sendiri sama-sama berjanji untuk berusaha menjaga warganya tetap di rumah mereka ataubermigrasi menuju Amerika Serikat. Dan pada hari Jumat, Trump berjanji bahwa kedua negara akan menerima ventilator. “Baru saja berbicara dengan Presiden Nayib Bukele dari El Salvador,” tweeted Trump. “Akan membantu mereka dengan Ventilator, yang sangat dibutuhkan. Mereka telah bekerja dengan baik dengan kami di imigrasi di Perbatasan Selatan! Saya juga baru saja berbicara dengan Presiden Juan Orlando Hernandez dari Republik Honduras. Kami bekerja sama dengan erat di Perbatasan Selatan. Akan membantunya dengan permintaan Ventilator dan Alat test. “

Amerika Serikat tidak berbagi perbatasan dengan Honduras atau El Salvador, jadi Trump mungkin merujuk pada perjanjian di mana negara-negara tersebut telah berjanji untuk menarik kembali migran dan pencari suaka. Namun, bagi Guatemala, yang menghadapi ancaman coronavirus yang serupa atau lebih buruk, Trump tidak memiliki tawaran dukungan. Presiden Guatemala Alejandro Giammattei dalam beberapa pekan terakhir telah berulang kali memblokir – kemudian membuka blokir, kemudian memblokir kembali – penerbangan deportasi dari Amerika Serikat yang mengangkut orang-orang Guatemala yang telah memasuki AS secara ilegal. Pemerintah Guatemala mengatakan pada hari Jumat bahwa 89 orang yang dideportasi dari AS ke Guatemala terkena COVID-19.

Michael Kozak, penjabat asisten sekretaris untuk Biro Urusan Belahan Barat Departemen Luar Negeri AS, mengatakan bahwa pihaknya mendeportasi migran ke negara asal mereka sebenarnya lebih aman bagi kesehatan mereka daripada terus menahan mereka di penjara imigrasi yang sudah sangat penuh. Kozak membela diri, bahwa pengiriman migran yang terinfeksi virus korona ke negara asal mereka – yang berpotensi menyebarkan penyakit ke tanah baru sebelumnya tidak mereka ketahui sudah terkena Corona. Karena banyak yang tidak menunjukkan gejala pada saat deportasi, sehingga tidak dapat ditentukan bahwa mereka sakit.

Kozak juga mengatakan dia tidak percaya Trump memilih negara-negara Amerika Tengah tertentu sebagai favorit tetapi hanya menanggapi permintaan saat dia mendapatkannya. Tidak ada tekanan keras dari AS antara kerja sama pemindahan dan ventilator. AS mencoba untuk mengirimkan obat-obatan dan persediaan medis kepada siapa saja yang membutuhkannya, termasuk negara-negara yang belum memiliki hubungan baik dengan mereka.

Trump juga menulis tweet bahwa dirinya mengirim donasi kepada Lenin Moreno, presiden Ekuador. Ekuador sendiri tidak banyak berperan dalam inisiatif Trump apa pun, tetapi telah menjadi lebih mendukung kebijakan A.S. sejak Moreno menggantikan pemerintahan yang lebih sosialis. Hernandez dari Honduras telah secara rutin memberikan pujian pada Trump dan menyetujui kebijakan AS sejauh-jauhnya dengan memilih berpihak pada Washington di PBB atas resolusi yang berusaha untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Walau begitu ada kabar tidak sedap Penegak hukum AS menuduh Hernandez terlibat dalam perdagangan narkoba.

Adapun Bukele di El Salvador telah menikmati dukungan dari Washington. Bukele telah mengambil garis yang semakin keras dengan meningkatnya penggunaan militer, baik untuk memerangi pandemi coronavirus dan untuk melumpuhkan lawan politiknya.

Demi Atasi Migran, AS Ingin Investasi Rp 65 Triliun
Uncategorized

Demi Atasi Migran, AS Ingin Investasi Rp 65 Triliun

Demi Atasi Migran, AS Ingin Investasi Rp 65 Triliun – Krisis migran yang terjadi di Amerika Tengah ini memang tidak bisa lagi dianggap masalah sepele. Telah banyak pihak yang memberikan bantuan dan juga berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut, namun masalah tersebut tidak kunjung berhenti. Para migran berusaha sekeras mungkin untuk bisa mendapatkan keinginannya dari aksi unjuk rasa. Menanggapi hal tersebut membuat pihak pemerintahan Amerika Serikat tidak bisa berdiam diri. Demi menghentikan terjadinya krisis migran ini AS memberikan investasi sebesar 4,5 miliar dollar atau yang setara dengan 65,2 triliun kepada Amerika Tengah dan juga Meksiko.

Pihak otoritas Amerika Serikat telah berjanji untuk mendukung Presiden Meksiko yakni Andres Manuel Lopez Obrador. Pihak AS memberikan janji untuk memberikan dorongan untuk melakukan pembangunan di Amerika Tengah. Negara di bagian Amerika Tengah merupakan salah satu sumber utama para migran yang masuk ke dalam Amerika Serikat tanpa izin. Sebuah perusahaan investasi swasta yang ada di luar negeri yaitu OPIC yang juga didukung oleh pemerintahan untuk memberikan 2,5 miliar dollar AS atau yang setara dengan 36,1 triliun yang diberikan dalam bentuk investasi baru di El Salvador, Honduras, dan juga Guatemala.

Kementrian dari luar negeri AS memberikan pernyataan bahwa investasi tersebut hanya berlaku dengan proyek – proyek komersial yang dianggap layak saja. OPIC berusaha untuk memberikan bantuan sebesar 2 miliar dollar AS yang setara dengan Rp 28,8 triliun kepada Meksiko selatan yang dianggap sebagai wilayah termiskin yang ada di negara tersebut. Pihak Kemenlu AS memberikan sebuah pernyataan bahwa OPIC telah memiliki proyek pipa yang berada di Meksiko, di El Savador, Guatemala, dan juga ada di Honduras sejak beberapa tahun yang lalu.

Mentri luar negeri Meksiko yakni Marcelo Ebras juga mengatakan bahwa pemerintahnya berusaha dan berkomitmen untuk bisa mendorong pertumbuhan regional menjadi lebih kuat lagi. Komitmen tersebut berupaya untuk memberikan gaji yang layak bagi para migran termasuk bagi para pemain judi bola online yang ada di Meksiko untuk dapat hidup lebih baik. Penawaran tersebut tentu sangat kontras dengan sebuah tuntutan yang telah diajukan oleh presiden Amerika Serikat yakni Donald Trump yang ditunjukan kepada Meksiko yang mana membayarkan tembok besar yang ada di perbatasan.

Trump sendiri memberikan ancaman kepada Amerika Tengah jika tidak bisa menghentikan migran yang berusaha untuk masuk ke dalam AS. Ancaman tersebut berupa pemotongan bantuan yang diberikan oleh AS kepada Amerika Tengah. Investasi yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat ini memang menjadi sebuah strategi yang bisa dilakukan untuk mengehentikan gerak jalan yang dilakukan para migran untuk berusaha masuk ke Amerika Serikat. Investasi yang diberikan AS tersebut bukanlah angka yang sedikit sehingga diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan Amerika tengah menjadi lebih mudah.

Bentrok Terjadi Antara Warga Kota Meksiko dengan Polisi
Arsip Berita Blog Informasi

Bentrok Terjadi Antara Warga Kota Meksiko dengan Polisi

Bentrok Terjadi Antara Warga Kota Meksiko dengan Polisi – Para imigran dari Amerika Tengah yang berusaha menuju Amerika Serikat datang dengan jumlah yang tidak sedikit. Pasalnya ribuan para imigran ini berusaha menuju Amerika Serikat untuk melakukan sebuah unjuk rasa untuk menuntut beberapa hal. Ribuan orang yang ingin berujuk rasa tersebut terjebak di kota yang ada di perbatasan utara Meksiko. Sebelum terjebak para unjuk rasa tersebut mendapatkan sambuntan yang cukup hangat disepanjang jalan. Bahkan para karavan imigran tersebut mendapatkan sumbangan berupa makanan dan juga doa dari para penduduk setempat. Namun sambutan tersebut berbeda ketika para demonstran sampai di Tijuana.

Para imigran tersebut tejebak setelah mereka telah melakukan perjalanan yang cukup panjang dengan waktu yang sangat lama. Para imigran tersebut telah melakukan perjalanan selama kurang lebih satu bulan dan pada waktu tersebut para imigran juga tidur di lapangan baseball di sebuah kompleks yang ada di kompleks olahraga di wilayah tersebut. Di kompleks tersebut terdapat sebuah pagar dari kawat yang mana digunakan untuk memisahkan Meksiko dengan Amerika Serikat. Para pengunjuk rasa juga melemparkan kaleng kepada para petugas polisi yang berusaha untuk menghalagi para pengunjuk rasa untuk masuk ke dalam penampungan imigran.

Para penyelenggara menyatakan bahwa aksi unjuk rasa tersebut bukan merupakan bentuk dari anti imigran melainkan merupakan anti invansi. Jumlah demontran sangat banyak sekali bisa mencapai 1.000 orang. Para pengunjuk rasa tersebut berkumpul dengan menggunakan seragam tim sepak bola dari Meksiko. Selain itu juga mengibarkan bendara Meksiko dengan menyanyikan lagu kebangsaan. Penyelenggara ujuk rasa tersebut juga sangat melarang keras para demonstran yang merokok ganja dan juga membuang sampah sembarangan. Hal tersebut dikarenakan sangat tidak menghargai keramahan kota.

Para pengunjuk rasa ini mengeluhkan soal makanan, sedangkan ujuk rasa berujung terjadinya bentrok dengan pihak kepolisian. Sejumlah para imigran tersebut berusaha untuk menuju kota dengan menggunakan bus. Para demonstran tersebut berusaha untuk meninggalkan kekerasan geng dan juga kemiskinan yang ada di tempat tersebut. Para demonstran tersebut berusaha untuk bisa mencapai Guatemala dan kemudian akan menuju ke Amerika Serikat. Tentu saja para pengunjuk rasa tersebut paham betul bahwa aksinya tersebut bukanlah hal yang mudah karena harus menggunakan visa AS. Tanpa adanya visa tersebut maka akan sangat tidak mungkin untuk bisa masuk ke dalam AS. Bentrok yang terjadi antara warga Meksiko dengan pihak kepolisian tersebut nampaknya menjadi cukup panas mengingat kedua pihak sama – sama menjalankan hal yang sama. Tentu saja keinginan demonstran yang ingin berjalan masuk ke dalam AS dan pihak kepolisian yang ingin menjaga jalan agar para pengunjuk rasa tidak bisa masuk ke dalam AS dengan mudah.

Para Imigran Menginginkan Presiden Honduras Orlando Mundur dari Jabatannya
Arsip Berita Blog Informasi

Para Imigran Menginginkan Presiden Honduras Orlando Mundur dari Jabatannya

Para Imigran Menginginkan Presiden Honduras Orlando Mundur dari Jabatannya – Kabar masuknya para imigran Amerika Tengah ke Amerika Serikat ini menjadi salah satu kabar yang cukup serius. Para imigran yang berhasil masuk ke dalam AS ini terdiri dari 2 kelompok yang mana ke dua kelompok tersebut mengeluarkan suaranya masing – masing. Kedua kelompok tersebut mempunyai sebuah keinginan yang harus dikabulkan oleh AS sehingga bisa membuat para unjuk rasa kembali ke tempat asalnya. Sejumlah tuntunan yang ditunjukan kepada AS tersebut memang cukup mengejutkan.

Sebelum hanya tinggal beberapa para pendemo yang berhasil masuk ke dalam AS, sebelumnya orang yang menuju ke Konsulat AS yang ada di Tijuana Meksiko berjumlah 6.000 imigran. Namun dalam perjalanannya ada beberapa diantaranya yang memilih untuk kembali ke asalnya, ada yang mendapatkan deportasi, dan ada juga yang memilih untuk mengajukan visa kemanusiaan yang ada di Meksiko. Sehingga yang berhasil masuk ke dalam AS hanya beberapa diantaranya saja.

Dua kelompok yang berhasil masuk ke AS melakukan unjuk rasa yang mana menginginkan presiden Honduras Orlando untuk mundur dar kursi jabatannya. Hal ini diinginkan oleh para demonstran yang cukup geram dengan kasus tersebut yang bahkan tidak ada solusi yang tepat. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu dari kelompok unjuk rasa yang datang. Keinginan para unjuk rasa ini bukanlah keinginan main – main atau hanya sebagai gertakan saja. Pasalnya para unjuk rasa memberikan waktu 72 jam kepada para konsulat AS untuk menanggapi keinginan dari para unjuk rasa. Hal tersebut tentu menjadikan kasus ini semakin panas dan tidak kunjung terselesaikan.

Tidak hanya menginginkan presiden untuk turun dari jabatannya pasalnya salah satu kelompok unjuk rasa lainnya juga menginginkan untuk mendapatkan uang. Ya, salah satu kelompok unjuk rasa meminta sejumlah uang yang cukup besar untuk modal kembali ke Amerika Tengah. Kabarnya uang yang diminta oleh para unjuk rasa tersebut sebanyak 50.000 dollar AS yang mana jumlah tersebut setara dengan Rp 724,9 juta rupiah. Bagi sebagian orang tentu jumlah tersebut sangat besar, karena sebanyak 50.000 dollar AS harus diberikan masing – masing orang yang unjuk rasa. Sedangkan untuk kelompok tersebut terdapat sekitar 100 orang yang unjuk rasa.

Walaupun angka tersebut dianggap besar namun kabarnya sejumlah uang tersebut bukanlah jumlah yang besar jika dibandingkan dengan uang yang telah diambil oleh AS dari Honduras. Uang tersebut kabarnya diminta oleh para imigran untuk nantinya akan digunakan kembali ke Amerika Tengah dan sebagian akan dijadikan modal untuk bermain judi bola online. Itulah tuntutan dari para unjuk rasa kepada AS untuk segera diperhatikan jika ingin para imigran kembali ke Amerika Tengah.

Imigran Amerika Tengah Tidak Akan Masuk AS Asal Diberi Ini
Uncategorized

Imigran Amerika Tengah Tidak Akan Masuk AS Asal Diberi Ini

Imigran Amerika Tengah Tidak Akan Masuk AS Asal Diberi Ini – Kabar masuknya imigran dari Amerika Tengah ke AS memang sedang menjadi pembahasan yang sangat menarik. Banyak media yang menyoroti kabar tersebut karena terlalu rumit. Kelompok para imigran asal Amerika Tengah ini terdiri dari dua kelompok. Kelompok para imigran ini melakukan sebuah unjuk rasa yang ditunjukan di Konsulat Amerika Serikat yang berada di Tijuana Meksiko. Unjuk rasa yang dilakukan oleh imigran ini untuk menyerukan beberapa tuntutan.

Para imigran ini mengatakan keinginannya untuk tidak akan masuk ke AS kembali asalkan diberi sejumlah uang yakni masing – masing dari mereka diberikan 50.000 dollar AS untuk pulang. Keinginan tersebut disampaikan oleh salah satu kelompok yang langsung di tunjukan ke pada presiden Donald Trump. Keinginan meminta sejumlah uang tersebut tentu sangat mengejutkan dan menjadi berita yang sangat menarik. Kelompok yang menginginkan sejumlah uang tersebut kabarnya berjumlah sekitar 100 orang yang mana tiba di konsulat pada pukul 11.00.

Kabar memintanya uang dengan nilai yang cukup besar itu kabarnya bukanlah nilai yang besar. Jika diperhatikan dari kasus unjuk rasa tersebut menyatakan bahwa uang yang diminta kelompok tersebut nilainya sangat kecil jika dibandingkan dengan uang yang telah dicuri Amerika Serikat dari Honduras. Hal tersebutlah yang memicu kelompok tersebut untuk meminta sejumlah uang agar bisa kembali ke Amerika Tengah. Uang yang diminta tersebut nantinya akan dibawa pulang yang digunakan para migran untuk membuka sebuah bisnis. Kelompok tersebut memberikan sebuah surat yang cukup mengkritik intervensi AS.

Para unjuk rasa tersebut tidak hanya meminta sejumlah uang saja untuk bisa kembali ke Amerika Tengah. Namun para kelompok unjuk rasa tersebut juga menginginkan presiden AS untuk membuat presiden Honduras Orlando Hernandez bisa meninggalkan kursi jabatannya. Para unjuk rasa tersebut bahkan memberikan waktu yang terbatas untuk konsulat AS selama 72 jam untuk menanggapi keinginan yang telah disampaikan oleh para demonstran. Jumlah imigran yang sebelumnya menuju Tijuana sebanyak 6.000 orang. Namun di saat perjalanan tersebut sebanyak 700 orang dikabarkan memilih untuk kembali ke rumah. Sedangkan 300 diantara dideportasi dari Amerika Tengah. Sedangkan untuk 2.500 imigran lainnya sudah mengajukan visa kemanusiaan yang ada di Meksiko.

Jika dilihat dari aksi tersebut dapat disimpulkan bahwa kasus ini memang cukup serius. Banyak yang memilih untuk meninggalkan tempat tinggalnya karena tidak ada solusi yang jelas. Sehingga para kelompok unjuk rasa tersebut ingin mendapatkan hak yang bisa membuat mereka bisa hidup tenang di Amerika Tengah. Para unjuk rasa ini ingin mendapatkan apa yang mereka inginkan sehingga bisa kembali ke Amerika Tengah. Kabar ini cukup menjadi kabar yang mengejutkan dari Amerika Tengah.